Sabtu, 26 Januari 2008

DIKAITKAN TAKHAYUL, METODE KIRLIAN TAK DIKEMBANGKAN

Pemotretan dengan Metode Kirlian yang mempergunakan teknik "High Frequency Photography" yang pernah dilakukan Dr Sutisna Sastrawijaya, Kepala Study Centre LAPAN (Jawa Pos, 11-12 Agustus lalu) sekarang ini sudah tidak lagi dikembangkan.
"Bahkan sejak 1979, alat itu sudah disimpan di gudang", ujar Ir Alfred Sitinjak MSc, kepala Pusat Studi Dirgantara LAPAN kepada Jawa Pos yang menghubunginya kemarin. Peralatan fotografi dengan metode Kirlian, sebenarnya merupakan sebagian alat yang dipakai untuk studi tentang "space biomedicine". Dengan demikian, sebenarnya peralatan fotografi Kirlian hanya digunakan oleh beberapa negara maju dengan teknologi tinggi yang sudah menjangkau antariksa.
Bagi Indonesia, kata Alfred, peralatan tersebut terlalu canggih. "Akibatnya, peralatan Kirlian tersebut justru dikait-kaitkan dengan paranormal", ujarnya.
Pernyataan Alfred itu dibenarkan Maramis Safri, stafnya yang ditugasi menjaga peralatan tersebut. "Dulu waktu rami-ramainya seminar tuyul, beberapa orang paranormal datang ke LAPAN. Katanya ingin melihat alat yang bisa memotret tuyul ", ujar Maramis.
"Waktu itu kami langsung menjelaskan kalau alat itu tidak bisa memotret tuyul. Rupanya penjelasan tentang alat Kirlian itu terlalu dibesar-besarkan", kata Maramis.
Mengenai alat Kirlian sendiri, Sheila Ostrander dan Lynn Schroeder dalam buku "Phychis Discoveries mengemukakan bahwa Kirlian Effect terjadi dengan High Frequency Photography yang dapat menangkap Aura (lompatan cahaya) cemerlang dari sekitar tubuh manusia.
Pancaran sinar tersebut dapat terlihat bila tubuh itu ditempatkan dalam sebuah medan arus listrik berfrekuensi tinggi. Metode Kirlian sendiri ditemukan oleh sepasang suami-istri ilmuwan listrik Semeyon dan Valentina Kirlian, dari Rusia.
Metode tersebut dikembangkan berdasarkan teknik generator pemantik frekuensi tinggi yang sudah diperkenalkan oleh Nikolai Tesla. Namun, teknik Kirlian mempunyai fungsi penerapan yang lebih luas. Metode ini dapat dimanfaatkan untuk bidang botani, kedokteran, peralatan mikroskop sampai holografik.
Dr Hilner dan E.F. Smart, dua peneliti dari Inggris pernah mengadakan eksperimen dengan pemotretan voltage DC tinggi. Mereka menemukan adanya energi interaksi-transfer antara sehelai daun yang baru dipetik dengan daun layu yang dipetik 24 jam sebelumnya. Dari hasil riset kedua peneliti tersebut diketahui pula bahwa musik dapat mengubah corona yang terpancar dari hasil aura menjadi lebih terkonsentrasi.
Singkatnya, metode Kirlian dapat diterapkan di dunia kedokteran. Tapi, karena terlalu tingginya teknologi tersebut, hasilnya belum bisa dijabarkan secara realistis untuk kemanfaatan ilmu kedokteran di Indonesia.
Maramis, staf pusat studi Dirgantara LAPAN yang selalu mendampingi Dr Sutisna dalam berbagai penelitian menyatakan bahwa sejauh itu belum ada orang yang mampu menafsirkan makna corona hasil emanasi dari Kirlian Effect. Di samping itu, penelitian dengan metode tersebut sering bersifat subjektif. Misalnya, suatu ketika ia pernah memotret ibu jari seseorang yang dianggap sangat saleh dan taat beribadah. Hasilnya, ternyata menyatakan bahwa orang tersebut tergolong jahat. "Jadi, kita tidak berani memastikan apakah hasil Kirlian Effect itu benar begitu, atau penafsiran masing-masing corona terpancar yang belum ada standar itu yang keliru", ujar Maramis menjelaskan.
Alfred yang menggantikan Dr Sutisna ini juga mengatakan, peralatan itu terlalu besar dananya bila dioperasikan untuk studi Space Biomedicine. Bahkan dengan dana 100 miliar dolar pun masalah space biomedicine belum teratasi", ujarnya.

Tidak ada komentar: