Metode Kirlian yang diseminarkan di Universitas Nasional Jakarta, Rabu lalu, sebenarnya tidak hanya mampu memotret energi doa. "Metode itu bisa untuk melihat macam-macam energi yang tidak terlihat mata manusia", kata Dr Sutisna Sastrawijaya, pelopor penelitian Metode Kirlian di Indonesia.
Sutisna diwawancarai sehubungan dengan Seminar Doa sebagai Energi yang dianalisis Dra Sri Kusdyantinah dari Fakultas Pascasarjana Universitas Nasional (Jawa Pos, kemarin). Seminar tersebut bersumber dari eksperimen Metode Kirlian yang pernah dilakukan Sutisna.
Menurut Sutisna, Metode Kirlian berasal dari Belanda. "Kalau kita membeli peralatan fotografi Kirlian dari Belanda, maka kita akan mendapatkan petunjuk dan cara prakteknya", ujarnya. Maka dari itu, ia sendiri tidak tahu dari mana istilah Kirlian itu dipakai. "Saya tahu, Kirlian itu nama orang Rusia, penemu metode itu", katanya.
Peralatan Kirlian itu berupa kamera foto serta seperangkat lampu "high voltage". Harga peralatan itu, menurut Sutisna, sekitar Rp. 15 juta pada sekitar tahun 1979. Satu-satunya pemilik alat itu di Indonesia adalah LAPAN (Lembaga Antariksa Penerbangan dan Aeronautika Nasional) Jakarta.
Pada 1979 ketika Sutisna masih menjabat kepala Study Centre LAPAN, eksperimen metode Kirlian itu ia lakukan bersama stafnya, Drs Pakpahan. Yang diteliti, antara lain, pancaran energi doa.
Ketika itu, seorang mubaligh yang dianggap punya tingkat ketaqwaan tinggi, sedang berdoa di sebuah ruangan gelap (tanpa penerangan lampu). Mubaligh itu melafalkan Asmaul Husna, Ya Rahman Ya Rahim, berkali-kali dengan kedua tapak tangan menengadah. Sementara di hadapan mubaligh tersebut, di dekat tangannya, diletakkan sebuah gelas berisi air putih.
"Ketika sampai pada tahap tertentu, ujung jari mubaligh itu disorot dengan lampu "high voltage". Dan, saat itulah dilakukan pemotretan", tutur Sutisna. Hasilnya, ujung-ujung jari si mubaligh memancarkan sinar biru keemasan (Sutisna menyebutnya, Aura). Dan, sinar tersebut terlihat jelas sebab dipantulkan oleh gelas berisi air tadi.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang yang sedang melakukan sholat tahajjud di malam hari memancarkan Aura lebih terang dari pada ketika sholat di siang hari. Mungkin ini akibat kondisi siang hari banyak gangguan (Interference) dari Aura sekitar terutama cahaya matahari.
Penelitian tidak berhenti, Sutisna dibantu Pakpahan, lantas meneliti tumbuh-tumbuhan, juga manusia dalam keadaan tidak sedang berdoa. Dan hasilnya, beberapa hal yang selama ini tidak terlihat mata, terungkap dalam penelitian itu.
Salah satu penelitian mereka tentang penolakan masyarakat Banten yang enggan menanam bunga Bougenville. "Sebenarnya, penelitian ini terjadi secara kebetulan saja", kata Sutisna.
Ceritanya, ketika itu Sutisna berniat mencoba meneliti tumbuh-tumbuhan. "Kebetulan saya pilih bunga Bougenville untuk dipotret dengan metode Kirlian", kenangnya.
Hasil pemotretan, terungkap bahwa ujung-ujung bunga Bougenville memancarkan Aura kemerah-merahan. "Saya tafsirkan, Aura itu membawa pengaruh panas", ujar Sutisna. Maksudnya, lanjut Sutisna, bunga itu akan berpengaruh jelek jika ditanam di depan rumah, sebab penghuni rumah akan menyerap radiasi Aura kemerahan itu.
Uniknya, lanjut Sutisna, masyarakat banten seolah-olah sudah mengetahui pengaruh tersebut. "Sejak dulu kala, masyarakat Banten tidak pernah menanam Bougenville di depan rumah mereka. Menurut mereka, bunga itu menyebabkan keluarga penghuni rumah sering bertengkar ", katanya.
Dengan penelitian itu, Sutisna menyimpulkan bahwa sesuatu yang semula dianggap tahayul oleh masyarakat Banten, ternyata memang terbukti menurut penelitian ilmiah.
Dari sejumlah penelitian yang dilakukan Sutisna, menurut dia, yang paling penting adalah penelitian mengenai padi. "Ini sangat berguna bagi petani", ujarnya.
Padi yang sehat, menurut hasil pemotretan Metode Kirlian, memancarkan sinar putih bersih. Sedangkan padi yang terserang hama, memancarkan sinar putih kecoklatan atau putih kehitam-hitaman. "Jadi, meskipun tanaman padi yang tampaknya sehat, jika dipotret ternyata berwarna putih kecoklatan, maka padi itu tidak sehat", tuturnya. "Dengan cara ini, bisa dilakukan pencegahan hama sejak dini", tambahnya.
Yang mengerikan, pemotretan itu bisa dilakukan untuk mengetahui sehat atau tidaknya seseorang. "Orang yang sehat, jika dipotret memancarkan Aura putih. Sedangkan yang kurang sehat, memancarkan Aura kelabu. Dan, yang hampir meninggal dunia memancarkan Aura hitam kemerah-merahan", tuturnya.
Dengan begitu, menurut Sutisna, meski seseorang tampaknya sehat, namun jika dipotret memancarkan warna hitam, maka yang bersangkutan dalam keadaan bahaya. "Artinya, jika ia sakit sepele saja, dalam waktu singkat akan meninggal dunia", tuturnya.
Sejumlah penelitian yang dilakukan Sutisna di LAPAN itu berhenti sejak 1980. "Sebab, Bapak Direktur LAPAN yang menggantikan Pak Salatun, tampaknya kurang tertarik dengan Metode Kirlian", kata Sutisna. Sejak itu pula Sutisna pensiun dari LAPAN. "Peralatan yang pernah saya gunakan dulu, kini masih tersimpan di LAPAN", tambahnya.
Kini, Sutisna yang menjabat staf ahli di Direktorat Kesehatan TNI AU Jakarta, berminat untuk melakukan sejumlah penelitian dengan Metode Kirlian lagi. "Tapi, saya kesulitan membeli peralatan yang cukup mahal itu", katanya.
Sutisna diwawancarai sehubungan dengan Seminar Doa sebagai Energi yang dianalisis Dra Sri Kusdyantinah dari Fakultas Pascasarjana Universitas Nasional (Jawa Pos, kemarin). Seminar tersebut bersumber dari eksperimen Metode Kirlian yang pernah dilakukan Sutisna.
Menurut Sutisna, Metode Kirlian berasal dari Belanda. "Kalau kita membeli peralatan fotografi Kirlian dari Belanda, maka kita akan mendapatkan petunjuk dan cara prakteknya", ujarnya. Maka dari itu, ia sendiri tidak tahu dari mana istilah Kirlian itu dipakai. "Saya tahu, Kirlian itu nama orang Rusia, penemu metode itu", katanya.
Peralatan Kirlian itu berupa kamera foto serta seperangkat lampu "high voltage". Harga peralatan itu, menurut Sutisna, sekitar Rp. 15 juta pada sekitar tahun 1979. Satu-satunya pemilik alat itu di Indonesia adalah LAPAN (Lembaga Antariksa Penerbangan dan Aeronautika Nasional) Jakarta.
Pada 1979 ketika Sutisna masih menjabat kepala Study Centre LAPAN, eksperimen metode Kirlian itu ia lakukan bersama stafnya, Drs Pakpahan. Yang diteliti, antara lain, pancaran energi doa.
Ketika itu, seorang mubaligh yang dianggap punya tingkat ketaqwaan tinggi, sedang berdoa di sebuah ruangan gelap (tanpa penerangan lampu). Mubaligh itu melafalkan Asmaul Husna, Ya Rahman Ya Rahim, berkali-kali dengan kedua tapak tangan menengadah. Sementara di hadapan mubaligh tersebut, di dekat tangannya, diletakkan sebuah gelas berisi air putih.
"Ketika sampai pada tahap tertentu, ujung jari mubaligh itu disorot dengan lampu "high voltage". Dan, saat itulah dilakukan pemotretan", tutur Sutisna. Hasilnya, ujung-ujung jari si mubaligh memancarkan sinar biru keemasan (Sutisna menyebutnya, Aura). Dan, sinar tersebut terlihat jelas sebab dipantulkan oleh gelas berisi air tadi.
Penelitian lain juga menunjukkan bahwa orang yang sedang melakukan sholat tahajjud di malam hari memancarkan Aura lebih terang dari pada ketika sholat di siang hari. Mungkin ini akibat kondisi siang hari banyak gangguan (Interference) dari Aura sekitar terutama cahaya matahari.
Penelitian tidak berhenti, Sutisna dibantu Pakpahan, lantas meneliti tumbuh-tumbuhan, juga manusia dalam keadaan tidak sedang berdoa. Dan hasilnya, beberapa hal yang selama ini tidak terlihat mata, terungkap dalam penelitian itu.
Salah satu penelitian mereka tentang penolakan masyarakat Banten yang enggan menanam bunga Bougenville. "Sebenarnya, penelitian ini terjadi secara kebetulan saja", kata Sutisna.
Ceritanya, ketika itu Sutisna berniat mencoba meneliti tumbuh-tumbuhan. "Kebetulan saya pilih bunga Bougenville untuk dipotret dengan metode Kirlian", kenangnya.
Hasil pemotretan, terungkap bahwa ujung-ujung bunga Bougenville memancarkan Aura kemerah-merahan. "Saya tafsirkan, Aura itu membawa pengaruh panas", ujar Sutisna. Maksudnya, lanjut Sutisna, bunga itu akan berpengaruh jelek jika ditanam di depan rumah, sebab penghuni rumah akan menyerap radiasi Aura kemerahan itu.
Uniknya, lanjut Sutisna, masyarakat banten seolah-olah sudah mengetahui pengaruh tersebut. "Sejak dulu kala, masyarakat Banten tidak pernah menanam Bougenville di depan rumah mereka. Menurut mereka, bunga itu menyebabkan keluarga penghuni rumah sering bertengkar ", katanya.
Dengan penelitian itu, Sutisna menyimpulkan bahwa sesuatu yang semula dianggap tahayul oleh masyarakat Banten, ternyata memang terbukti menurut penelitian ilmiah.
Dari sejumlah penelitian yang dilakukan Sutisna, menurut dia, yang paling penting adalah penelitian mengenai padi. "Ini sangat berguna bagi petani", ujarnya.
Padi yang sehat, menurut hasil pemotretan Metode Kirlian, memancarkan sinar putih bersih. Sedangkan padi yang terserang hama, memancarkan sinar putih kecoklatan atau putih kehitam-hitaman. "Jadi, meskipun tanaman padi yang tampaknya sehat, jika dipotret ternyata berwarna putih kecoklatan, maka padi itu tidak sehat", tuturnya. "Dengan cara ini, bisa dilakukan pencegahan hama sejak dini", tambahnya.
Yang mengerikan, pemotretan itu bisa dilakukan untuk mengetahui sehat atau tidaknya seseorang. "Orang yang sehat, jika dipotret memancarkan Aura putih. Sedangkan yang kurang sehat, memancarkan Aura kelabu. Dan, yang hampir meninggal dunia memancarkan Aura hitam kemerah-merahan", tuturnya.
Dengan begitu, menurut Sutisna, meski seseorang tampaknya sehat, namun jika dipotret memancarkan warna hitam, maka yang bersangkutan dalam keadaan bahaya. "Artinya, jika ia sakit sepele saja, dalam waktu singkat akan meninggal dunia", tuturnya.
Sejumlah penelitian yang dilakukan Sutisna di LAPAN itu berhenti sejak 1980. "Sebab, Bapak Direktur LAPAN yang menggantikan Pak Salatun, tampaknya kurang tertarik dengan Metode Kirlian", kata Sutisna. Sejak itu pula Sutisna pensiun dari LAPAN. "Peralatan yang pernah saya gunakan dulu, kini masih tersimpan di LAPAN", tambahnya.
Kini, Sutisna yang menjabat staf ahli di Direktorat Kesehatan TNI AU Jakarta, berminat untuk melakukan sejumlah penelitian dengan Metode Kirlian lagi. "Tapi, saya kesulitan membeli peralatan yang cukup mahal itu", katanya.
5 komentar:
bagaimana jika bougenville ditanam disamping rumah ?
Dengan adanya penelitian ini sy jadi tahu, pdahal sebelumnya didepan rumah sy ada tanaman bougenville yg besar.
Trimakasih....bisa jd referensi n tambah ilmu
Terima kasih untuk ilmunya
Saya juga dulu mempunyai tananan tsb mmg menimbulkan kondisi yang tidak baik
Posting Komentar